Tan Khoen Swie, Keturunan China dari Kediri yang Sangat Berani Melawan Belanda

Perlawanan kepada kesewenang-wenangan memang tidak harus selalu dilakukan dengan cara kekerasan apalagi peperangan. Selain mengangkat senjata, masih banyak siasat lain yang bisa dipilih untuk menghadapi ketidakadilan. Langkah ini pulalah yang ditempuh oleh Tan Khoen Swie, ketika menyaksikan kekejaman penjajahan Belanda di bumi Indonesia.

Siapa itu Tan Khoen Swie

Memang tidak banyak literatur sejarah Indonesia yang menyebutkan keberadaan dari sesosok pria bernama lengkap Tan Khoen Swie. Akan tetapi dari sedikit catatan sejarah yang ada, bisa diketahui apabila Tan Khoe Swie merupakan seorang keturunan imigran asal China dan lahir di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada tahun 1883.

Ketika memasuki usia dewasa, dia pindah ke Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di kota kecil ini Tan Khoen Swie sempat membuka usaha vulkanisir ban merk Dunlop dari Inggris. Selain itu dia juga mengelola sebuah warung kelontong yang dikasih nama ‘Soerabaia’. Namun sayang sekali, kedua usaha tersebut mengalami kebangkrutan.

Mendirikan usaha percetakan dan penerbitan

Setelah sempat menderita kegagalan dalam berbisnis, Tan Khoem Swie tidak langsung patah arang atau kehilangan semangat begitu saja. Dia kembali membangun bisnis lagi, tapi dengan wujud yang berbeda yaitu usaha penerbitan buku.

Melalui usaha bisnisnya inilah karakter dan sifat asli dari sosok Tan Khoem Swie jadi terlihat jelas. Ternyata dia sangat anti dengan penjajah Belanda. Kebenciannya kepada pemerintahan kolonial ini diperlihatkan dalam penerbitan buku-buku yang dicetak di perusahaannya.

Salah satu buku yang diterbitkan oleh Tan Khoem Swid berjudul lengkap ‘Atoeran Dari Hal Melakoeken Hak Perkoempoelan dan Persidangan Dalem Hindia-Nederland’. Buku ini hasil karangan seorang penulis bernama R. Boedihardjo.

Buku ini mengandung protes keras, sehubungan dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda. Mereka membuat aturan sangat ketat bagi siapa saja yang ingin mendirikan suatu komunitas atau organisasi dan perkumpulan.

Penentangan dari Tan Khoen Swie kepada kaum penjajah Belanda diperlihatkan lagi melalui sebuah buku lain berjudul ‘Tjinta Kebaktian Pada Tanah Air’. Buku ini diterbitkan pada 1941 dan sangat disukai oleh kalangan anti penjajahan.

Selain itu masih banyak lagi buku karya para penulis yang diterbitkan di penerbitan milik Tan Khoen Swie. Jumlah keseluruhannya mencapai lebih dari 400 judul buku dan sebagian besar berisi semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Sifat yang sangat anti kepada penjajahan Belanda ini tidak hanya ditunjukan oleh Tan Khoen Swan melalui buku-buku yang diterbitkan. Dia memanjangkan rambutnya hingga sebahu dan hal ini merupakan lambang perlawanan hatinya pada penindasan.

Meski bukan warga asli Kediri, namun setidaknya kehadiran Tan Khoen Swan tetap mampu mengasih warna sejarah perjuangan negeri ini demi memerdekakan diri. Langkahnya sangat pantas ditiru oleh generasi masa sekarang.