Menyaksikan Tradisi Jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung Kediri

Bagi warga Tulungagung yang letaknya cukup dekat dengan Kabupaten Kediri Jawa Timur, tentu sudah tidak asing lagi dengan prosesi adat jamasan tombak Kyai Upas Tulungagung. Pusaka Kanjeng Kyai Upas merupakan pusaka dengan bentuk tombak panjang wilah 35 cm.

Pusaka tersebut memiliki lendean sepanjang 4 meter. Pusaka Kanjeng Kyai Upas berasal dari Mataram dan dibawa oleh RM Tumenggung Pringgodiningrat. Beliau merupakan putera dari Pangeran Notokoesomo, menantu dari Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Kepercayaan masyarakat Tulungagung

Di dalam Pusaka Kanjeng Kyai Upas lengkap dengan pengiring yang berwujud sebuah pragi gamelan pelok slendro bernama Kyai Jinggo Pengasih beserta wayang purwo lengkap dengan kelir. Menurut kepercayaan masyarakat, pengiring ini tak boleh dipisahkan. Pusaka Kanjeng Kyai Upas hingga sekarang tersimpan di kelurahan Kepatihan sebagai sebuah pusaka daerah.

Masyarakat Tulungagung percaya jika Pusaka Kanjeng Kyai Upas bertuah sebagai penolak banjir serta ketentraman untuk daerah ini. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, di tahun 1895 lalu pusaka Kanjeng Kyai Upas dibawa oleh R. Pringgokusumo yang merupakan seorang wedana di Kediri,

Ketika itu Tulungagung mengalami bencana banjir. Air bah tersebut dapat hilang saat Pusaka Kanjeng Kyai Upas dikembalikan pada tempatnya. Lalu R. Pringgokusumo oleh pemerintah Hindia Belanda diangkat menjadi Bupati Tulungagung.

Pusaka Kanjeng Kyai Upas sudah lama dirawat secara turun temurun dari keturunan Bupati Ngrowo. Pemeliharaan ini adalah kewajiban, berdasarkan keputusan bersama keluarga dari Pringgokoesomo. Selain itu tugas ini pun dilaksanakan dengan baik.

Tradisi Jamasan pusaka

Pelaksanaan prosesi jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini selalu dilakukan dengan khidmat sesuai tradisi yang ada sejak ratusan tahun lalu. Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas dihadiri kurang lebih 500 tamu undangan.

Tamu undangan ini berasal dari bermacam-macam kalangan. Seperti Paguyuban Permadani, Kepala OPD, Forpomda, Warga Kasepuhan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia hingga tokoh agama dan warga masayrakat sekitar.

Kegiatan jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini juga dilakukan dengan tujuan mewujudkan program nasional pengelolaan keragaman budaya, melestarikan kebudayaan budaya leluhur dan mengembangkan nilai tradisi budaya. Serta tidak ketinggalan, obyek wisata budaya.

Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas dilakukan setahun sekali tiap hari Jumat sesudah tanggal 10 Suro menurut kalender Jawa. Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas juga digunakan sebagai ucapan rasa syukur pada Tuhan. Sehingga di masa mendatang, masyarakat Tulungagung serta masyarakat Kediri bisa menjadi lebih baik dari hari ini serta terhindar dari bahaya dan petaka.