Mengunjungi Jejak Permukiman Kuno di Situs Aryo Jeding Tulungagung Kediri

Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, posisi geografisnya sangat berdekatan dengan Kediri. Kota ini terkenal sebagai kawasan yang banyak menyimpan peninggalan bersejarah, baik peninggalan berbentuk bangunan ataup benda-benda bersejarah yang tergolong sebagai benda cagar budaya. Tidak sedikit diantaranya yang berasal dari zaman kejayaan Kerajaan Majapahit.

Salah satu situs yang ditemukan di Kabupaten Tulungagung adalah Situs Aryo Jeding yang berlokasi di Desa Aryo Jeding, Kecamatan Rejotangan. Situs Aryo Jeding juga kerap disebut sebagai Candi Nilosuwarno. Sangat mudah sekali untuk menemukan situs sejarah ini, apalagi lokasinya memang sudah dikenal dan diberi petunjuk jalan yang jelas, yaitu di kawasan Jalan Rejotangan – Ngunut.

Konon Situs Aryo Jeding ini merupakan petilasan Kadipaten Aryo Blitar, di era pemerintahan Adipati Ki Ageng Nilasuwarno. Tidak heran kemudian situs ini disebut Candi Nilosuwarno. Tidak tercatat pasti kapan situs ini ditemukan, karena penemuan batu-batuan bersejarah ini terjadi secara bertahap.

Saat ini bentuk bangunan situs Aryo Jeding sudah tidak terlihat dan hanya reruntuhan batu-batu. Tahun 1965 terjadi bencana alam yang membuat situs rusak. Warga setempat pun tidak terlalu tahu bagaimana sebenarnya bentuk asli bangunan ini.

Permukiman klasik

Wacana untuk melakukan pemugaran telah dilakukan, bahkan Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Wilayah Tulungagung dan Trenggalek juga sudah mengajukan hal ini kepada pemerintah pusat, namun memang belum ada tindak lanjut.

Selain bebatuan, warga juga banyak menemukan antefik, arca, kala, umpak dan yoni. Batu-batuan bersejarah ini dibuat dari bahan batu kapur. Antefik merupakan bagian dekoratif candi yang berbentuk meruncing.

Sementara kala adalah pahatan berupa wajah raksasa, biasanya terletak di atas ambang pintu hingga relung candi. Yoni merupakan lambang dari Dewi Parwati pasangan dari Dewa Siwa. Berdasarkan keberadaan yoni ini diduga latar belakang keagamaan situs ini adalah Hindu. Di sekitar situs Aryo Jeding juga terdapat makam Ki Ageng Sengguruh, yang konon merupakan pengganti Nilosuwarno.

Meskipun kondisinya memprihatinkan, tapi masih ada sedikit perhatian. Antara lain dengan melindungi situs ini dengan pagar sehingga tidak dicuri orang. Kawasan situs Aryo Jeding ini memang diperkirakan kaya akan peninggalan bersejarah.

Di luar pagar situs dan lebih dekat ke Sungai Brantas masih dapat dijumpai sejumlah struktur bangunan kuno yang masih terpendam berbentuk sumur kuno dan pecahan gerabah. Diduga selain bekas bangunan candi, pada zaman dahlu Situs Aryo Jeding menjadi area permukiman kuno dari masa klasik. Jadi sangat pantas dikunjungi oleh penggemar wisata sejarah.