Mengenal Tradisi Temanten Kucing Tulungagung Kediri

Setiap daerah ataupun kota di Indonesia kemungkinan besar memiliki tradisi hingga budaya yang sampai sekarang masih terus diletarikan oleh masyarakat. Ketika bicara soal tradisi di kota Tulungagung Kediri, ternyata ada satu tradisi menarik yakni Temanten Kucing dimana dari sisi namanya terdengar unik. Kekayaan budaya ini sangat menarik untuk dijadikan obyek wisata saat berkunjung di kota tersebut.

Permohonan hujan dan legenda

Ada tujuan dimana budaya Temanten Kucing di Tulungagung Kediri ini masih dilestarikan, yakni masyarakat ingin memohon hujan ketika terjadi musim kemarau panjang di daerah tersebut. Tata cara Temanten Kucing ini punya urutan tersendiri sehingga masih mengusung aspek sakral di dalamnya.

Konon dari tradisi unik di Tulungagung Kediri ini berawal dari seseorang bernama Eyang Sangkrah yang menginginkan hujan karena pada saat itu sedang terjadi kemarau panjang. Warga yang sebagian besar berprofesi petani mengalami masa-masa sulit karena gagal panen akibat kekeringan

Masih menurur legenda yang beredar, pada suatu saat tanpa sengaja Eyang Sangkrah tersebut mandi di sebuah sendang. Tidak lama kemudian tiba-tiba muncul seekor kucing yang bulu tubuhnya terdiri tiga warna atau disebut kucing condo mowo ikut mandi dengannya.

Setelah selesai mandi Eyang Sangkrah memandikan kucing tersebut di telaga. Kemudian di kawasan Desa Pelem terjadilah hujan deras sehingga saat itulah warga desa Pelem memiliki keyakinan jika hujan turun akibat Eyang Sangkrah yang memandikan kucing peliharaannya tersebut.

Prosesi tradisi Tementen Kucing

Proses dari Temanten Kucing diawali dengan melakukan kirab sepasang kucing betina dan jantan warna putih yang ditempatkan di sebuah keranji. Seorang penganting laki dan wanita membawa dua ekor kucing tersebut kemudian di belakang pengantin didampingi sosok tokoh desa yang sudah mengenakan pakaian adat Jawa. S

Sebelum duduk di kursi pelaminan, pihak pasangan Temanten Kucing tersebut dimandikan di telaga Coban. Kemudian secara bergantian antara kucing betina dan jantan dikeluarkan serta dimandikan memakai air telaga yang sudah melalui tahapan pemberian kembang.

Jika proses pemandian kucing telah selesai, maka proses arak-arakan dimulai untuk langsung menuju ke lokasi pelaminan. Dari tempat yang sudah dipersiapkan terdapat berbagai sesajian yang mana bertujuan untuk menjadi lambang pernikahan kucing jantan dan betina.

Kemudian dari pasangan laki-laki dan perempuan membawa kucing lalu duduk bersandingan di kursi pelaminan. Adapun ucapara pembacaan doa selalu dilakukan oleh pihak sesepuh desa setempat dengan durasi kurang lebih 15 menit.

Setelah upacara Temanten Kucing selesai biasanya warga akan berebut untuk mendapatkan air lalu membasuh muka ataupun membersihkan tangan mereka dari air bekas memandikan kucing. Ada kepercayaan jika setelah membasuh air pemandian kucing maka akan jadi awet muda dan memperoleh berkah.