Masjid Tiban Macanbang, Salah Satu Masjid Tua di Tulungagung Dekat Kediri

Tidak terlalu jauh dari Kediri, tepatnya di Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, terdapat sebuah bangunan masjid yang menjadi perhatian masyarakat, dan keberadaannya disebut-sebut penuh misteri. Masjid yang diberi nama Masjid Tiban Macanbang ini tidak diketahui secara pasti siapakah yang membangun atau bagaimana masjid ini dapat berdiri di lokasi tersebut.

Teka-teki yang menyertai

Nama Tiban sendiri identik dengan sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa ada yang mengetahui bagaimana jalannya kemudian tiba-tiba telah ada. Demikian pula Masjid Tiban yang menurut penuturan warga setempat seperti mendadak ada tanpa diketahui bagaimana prosesnya.

Konon Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pertamakali pada tahun 1600 Masehi, sangat tua dan ditemukan oleh penduduk setempat yang bernama Sangidin. Beliau adalah salah satu menantu Kyai Kasan Besari dari Ponorogo. Nah, Kyai Kasan Besari inilah yang merupakan guru dari pujangga besar dari Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu Ronggowarsito.

Tentang masjid sendiri kurang ditemukan data otentik terkait dengan sejarahnya. Tapi konon lokasi cikal bakal Desa Macanbang sendiri merupakan sebuah hutan belantara yang dikenal angker. Tidak ada yang berani masuk ke hutan ini, karena konon yang masuk akan mati.

Babad alas

Sangidin yang merupakan leluhur Desa Macanbang memberanikan diri masuk dan membuka alas atau hutan itu. Babad alas dilakukan oleh Sangidin guna membangun suatu permukiman. Pada suatu ketika, saat berupaya membuka hutan ini, Sangidin menemukan sebuah bangunan masjid kuno yang tiba-tiba saja ada di tengah hutan.

Hingga kini Masjid Tiban Macanbang masih aktif digunakan masyarakat setempat maupun dari luar kota yang mau berziarah untuk berdoa dan bersembahyang. Banyak banyak diantara menjadikan masjid ini sebagai obyek wisata religi maupun obyek wisata rohani.

Bangunan Masjid Tiban Macanbang sendiri terlihat sangat indah dan artistik. Masjid ini tidak mempunyai kubah maupun menara, dengan konsep bangunan menyerupai joglo dengan atap bersusun tiga. Beberapa kali bangunan masjid ini mengalami renovasi karena sudah sangat tua. Namun renovasi yang dilakukan tidak mengubah bentuk aslinya.

Masjid Tiban Macanbang ini selain dipakai untuk aktivitas beribadah, pada bagian terasnya yang serupa balai kerap digunakan untuk kegiatan warga. Di masjid ini juga digelar tradisi Rabu Wekasan yang digelar pada hari Rabu pertama di bulan Sapar. Tradisi ini adalah bentuk tasyakuran warga masyarakat setempat.

Di masjid ini juga dapat dijumpai berbagai benda kuno peninggalan Sunan Kuning. Misalnya mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan hingga bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih dipakai tiap hari. Semua punya daya tarik tinggi, membuat Masjid Tiban makin sering mendapat kunjungan para penggemar wisata rohani dan wisata religi.