Labuh Larung Sembonyo, Tradisi Para Nelayan di Pantai Popoh Tulungagung Kediri

Hampir semua profesi yang ditekuni di setiap daerah di Indonesia selalu memiliki tradisi unik dan menjadi potensi besar untuk dijadikan destinasi wisata budaya. Contohnya adalah tradisi tahunan, Labuh Larung Sembonyo yang diadakan di Kabupaten Tulungagung yang jaraknya sekitar 35 km dari Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Tradisi ini merupakan suatu upacara adat yang dalam pelaksanaanya sebagai wujud dari rasa syukur para nelayan atas keselamatan dan hasil tangkapan ikan mereka yang melimpah saat melaut. Ritual unik ini diadakan oleh para nelayan di Pantai Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulung Agung.

Waktu pelaksanaannya bertepatan ketika bulan Suro menurut perhitungan kalender Jawa atau bulan Muharram menurut kalender Islam. Sebelumnya Labuh Larung Sembonyo ini diadakan pada hari Senin Kliwon. Namun dengan alasan praktis, agar makin banyak masyarat maupun wisatawan dapat menyaksikannya, kemudian diganti menjadi Ahad atau Minggu Kliwon.

Persiapan

Kesibukan untuk menyiapkan tradisi Larung Sembonyo ini sudah mulai terasa sekitar 2 hari sebelum pelakanaan. Pada saat ini para nelayan sudah mulai sibuk membuat berbagai macam keperluan untuk gelaran upacara. Kesibukan ini tidak hanya dilakukan nelayannya saja, tetapi juga istri-istri mereka. Semua bekerjasama dan bergotong royong demi suksesnya upacara.

Sebagian ada yang memasak dan membuat makanan yang akan dijadikan sesaji berupa nasi tumpeng beserta lauk pauknya. Kemudian ada lagi yang menyiapkan rakit khusus yang nanti akan digunakan untuk melarung sesaji. Puluhan nelayan lainnya menghias perahu atau kapal milik mereka sebagai pengiring.

Segala macam persiapan ini biasanya akan selesai pada dini hari atau kurang lebih lima jam sebelum waktu pelaksanaan tiba. Setelah itu nelayan dan masyarakat lainnya yang membantu kegiatan ini akan istirahat sejenak, agar tetap kuat menjalani upacara sampai selesai.

Proses pelaksanaan

Proses pelaksanaan tradisi Larung Sembonyo diawali dengan selamatan atau pembacaan doa yang dipimpin oleh tetua desa atau ulama dan upacara ini dinamakan ujub. Setelah itu semua sesaji dan tumpeng beserta lauk pauk dan makanan lainya dibawa ke tempat upacara melalui sebuah arak-arakan.

Sampai di bibir pantai semua perabot upacara dimasukan dalam rakit dan perahu, lalu dibawa ke tengah laut. Tiba di tengah laut, semua sesaji didoakan kembali. Kemudian setelah itu ada sesaji khusus yang dibuang atau dilarung ke laut berupa kepala kambing.

Sedangkan sesaji lainnya menjadi rebutan para peserta tradisi dan masyarakat umum bersama wisatawan yang ikut menyaksikannya. Banyak yang meyakini, bahwa jika berhasil mendapat rebutan dari tradisi tersebut akan mendapat berkah keselamatan.