Gereja Merah Kediri Jawa Timur, Merahnya Menyimpan Banyak Kisah Sejarah

Karena hampir keseluruhan bangunannya bewarna merah, maka gereja yang sering dijadikan obyek wisata religi dan sejarah di Kediri ini lebih sering disebut Gereja Merah. Padahal nama aslinya adalah GPBI (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat) Immanuel Kediri. Lokasinya ada di Jl. KDP Slamet, Kalurahan Kalurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Provinsi Jawa Timur.

Sejarah pendirian

Gereja Merah atau Gereja GBPI Immanuel Kediri selesai dibangun pada 21 Desember 1904 oleh pemerintah kolonial Belanda. Proses pendiriannya diketuai seorang pendeta dari negara Belanda bernama JA Broers.

Pada masa tersebut gereja ini belum berwarna merah seperti sekarang namun didominasi oleh warna kuning gading. Selain itu sebutannya juga masih memakai nama Belanda, Kerkeraad Der Protestanche te Kediri. Selanjutnya pada tahun 1948, pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat lokal setempat dan namanya diganti menjadi GPBI Immanuel Kediri.

Hampir setengah abad kemudian seorang pendeta yang mengurusi gereja tersebut mempunyai gagasan merubah warna gereja menjadi merah tua sekitar tahun 1996. Sejak saat itulah gereja ini lebih terkenal dengan sebutan Gereja Merah.

Arsitektur bangunan dan ornamen

Sebagaimana bangunan lawan peninggalan Belanda, Gereja Merah juga menggunakan desain arsitektur bergaya kolonial khas Eropa. Konstruksi bangunannya menjulang tinggi. Selain itu pintu beserta jendelanya memiliki ukuran besar. Kedua elemen ini diletakan secara berjajar di bawah dan di atas pada dinding terdepan.

Meski secara keseluruhan dinding gereja ini tertutup oleh warna merah tua, tapi tetap terlihat jelas jika material yang dipakai untuk membuatnya adalah batu bata tanpa plester. Pemilihan batu bata yang tidak dikasih plester ini membuat bangunan gereja tersebut terlihat sangat unik namun tetap gagah.

Saat memasuki ruangannya, traveler akan menjumpai beberapa ornamen antik seperti lemari, kursi dan mimbar untuk pendeta saat menyampaikan khotbah. Semua ornamen yang usianya sudah ratusan tahun ini selalu terawat dengan baik dan masih digunakan hingga saat ini.

Koleksi kitab injil

Dalam gerega kuno ini juga tersimpan sebuah buku kitab injil peninggalan tahun 1867. Kitab berbahasa Belanda yang memiliki ketebalan 10 cm dengan ukuran 43 x 29 dibuat atau dicetak oleh perusahaan penerbit bernama De Nederlandtche Bijbel Compagnie.

Meski usianya sudah lebih dari satu setengah abad dan kertasnya sudah berbah warna, namun tulisan di kitab injil kuno tersebut masih dapat terbaca dengan jelas. Sampulnya dilapisi kulit tebal berwarna kecoklatan.

Tidak sulit bagi traveler untuk mendatangi obyek wisata sejarah yang satu ini. Gereja Merah atau Gereja GPIB Immanuel terletak ditempat yang cukup strategis di pinggir jalan besar dan bisa diakses dengan kendaraan pribadi atau transportasi publik dari arah mana saja.